Rabu, 16 November 2016

#83 Transformasi

Berada di zona nyaman itu benar-benar menyenangkan. Pertanyaannya, apa yang bisa membuatmu keluar dari zona nyaman? Tanggung jawab? Keinginan? Rasa takut? Cinta? Tenggat waktu? Sebenarnya banyak hal yang bisa membuatmu keluar dari zona nyaman, hanya saja mungkin kita tidak sadar. Ketika kita keluar dari zona nyaman, simply we feel uncomfortable. That's it.

Yang sebenarnya jadi objek pikir saya di sini adalah bagaimana kita bersikap ketika sesuatu memaksa kita keluar dari zona nyaman? Secara pribadi, escaping atau run away bukanlah pilihan utama. Kamu hanya membohongi diri sendiri. Hadapi.

Ketika kita menghadapinya, kita akan bertransformasi, akan berubah. Dan jenis perubahan apa yang terjadi pada diri kita itu tergantung bagaimana cara kita bersikap ketika 'hal' itu datang. Untuk saat ini, sikap yang paling baik menurutku adalah tetap rileks dan mencari celah. Merasa tertekan adalah musuh utama yang selalu membayangi saya untuk kembali ke zona nyaman. Rasa tertekan akan kembali membawa saya ke zona nyaman melalui berbagai cara. Lama-kelamaan dia akan dibantu oleh yang namanya rasa tidak peduli. Yang paling saya takutkan adalah ketika rasa tidak peduli itu sudah hadir, saya sudah kembali ke zona nyaman.

Saat ini saya sedang menghadapi tenggat waktu, keinginan, dan risiko. Secara mental, saya keluar dari zona nyaman. Dan secara refleks, saya kembali menyerahkan semuanya pada Tuhanku. Saya takut. Saya tertekan. Saya harus siap untuk risiko malu dan kegagalan jika saat waktunya tiba saya tidak siap. Atau bagaimana jika waktunya tidak kunjung tiba karena saya abai terhadap tenggat waktu? Saya melewati tenggat waktu tanpa saya sadari? Lalu, saya menyesal seumur hidup?

Ini serius. Saya harus mempersiapkan mental untuk kembali ke zona nyaman jika gagal. Jika saya gagal, akan datang kesempatan berikutnya, jadi sebenarnya saya tidak boleh putus asa. Yang harus saya siapkan adalah kemungkinan dibayangi rasa sakit hati, penyesalan, malu, depresi, dan perasaan negatif lainnya sebelum saya tiba ke zona nyaman. Zona nyaman adalah tempat terbaik untuk pulang ketika gagal berperang. Tapi, pulanglah sendirian tanpa perasaan negatif apapun.

Akan tetapi, jika saya berhasil, saya akan menghadapi tanggung jawab yang lebih besar, tenggat waktu yang lebih mencekik, dan target yang jauh lebih besar. Saya harus sangat siap andaikata saya berhasil. Bukankah itu lebih mengerikan? Saya harus menghadapi ronde dua jika berhasil di ronde satu.

Berhasil atau gagal, itu urusan nanti. Saya akan bertransformasi menjadi pribadi baru. Belajar dari hal-hal baru sepanjang perjalanan. Saya hanya takut... andaikan waktunya tiba, ternyata saya abai, saya lengah, lalu kesempatan itu tidak datang lagi, lalu saya menyesal seumur hidup, dan kehilangan jalan pulang ke zona nyamanku yang sejati.

Jumat, 04 November 2016

#82 Membiarkan kebodohan

Tulisan nomor 82 ini sebenarnya sudah berulang kali saya buat, tapi selalu saja jadi tidak klop tepat di pertengahan, jadinya dihapus. Tulisan ini akan membicarakan sebuah pembiaran, yaitu pembiaran terhadap kebodohan.

Tentu saja lebih susah berdebat dengan orang bodoh yang keras kepala dibandingkan dengan orang pintar yang didukung banyak fakta. Orang pintar yang didukung banyak fakta akan mengalah jika ternyata terdapat kecacatan dalam fakta-faktanya itu, sedangkan orang bodoh yang keras kepala tidak ada yang tahu bagaimana membuatnya sepakat dengan suatu informasi. Kecuali, mungkin, dengan negosiasi.

Jika bertemu dengan si bodoh keras kepala, orang mungkin akan menyerah berbicara dengannya, "terserah kamulah!" atau "sak karepmu lah!" adalah respon yang cocok. Respon itu cocok jika dengan kebodohannya dia tidak mengganggu sekitar. Akan tetapi, jika sekitarnya merasa terganggu, perang adalah hal yang tidak terelakkan.

Sekarang saya adalah si bodoh yang keras kepala. Saya tahu kesalahan saya, tapi enggan memperbaikinya. Yang mengkritik hampir tidak ada, karena mereka semua melakukan pembiaran. Iya, ini pembiaran kebodohan. Yang mengkritik, satu-satunya, adalah sisi saya yang lain yang 'merasa' pintar dengan dukungan banyak fakta, tetapi tidak berdaya menghadapi sisi bodoh yang keras kepala itu.

Bagaimana menghadapinya? Well, if it's working, it ain't stupid. Setelah didebat dan tetap keras kepala, pikirkan kemungkinan adanya faktor kepercayaan diri yang besar di baliknya, atau sekedar rasa nyaman ketika tidak mengikuti orang lain. Biarkan saja dengan apa yang akan dilakukannya selama tidak mengusik orang lain, kalau dia gagal memang itu suatu kebodohan. Namun, kalau dia berhasil dan tujuannya tercapai mungkin itu tidak 100% bodoh.

Dan kesimpulannya, saya bodoh. It ain't working, and I am stupid enough to let it slip. Sampai negosiasi dengan si bodoh ini selesai, sepertinya saya hanya akan membuang-buang waktu bermain game online dan berharap tugas-tugas selesai tepat pada waktunya. Dan orang yang ada di sekitar saya sadar penuh dengan itu, tetapi membiarkan.

Seandainya ada yang cukup berani menegur saya, tapi ya...
*log off*
*buka hape*
*main game*
*comment enabled*

Senin, 31 Oktober 2016

#81 Mendekati kesimpulan

Saya baru saja membaca kembali seluruh isi blog ini. Lalu, saya menarik kesimpulan bahwa saya ternyata sama sekali tidak berubah, terutama dalam masalah sikap ketika dihadapkan dengan masalah. Di awal blog, saya menilai bahwa saya memang sangat ingin berkembang. Saya manggut-manggut sendiri di dalam hati, memuji diri sendiri, bahwa ternyata banyak sekali yang sudah saya pelajari tentang diri saya sendiri.

Lalu, sepertiga pertengahan blog ini berisi tentang ketidakstabilan saya dalam menghadapi wanita. Sepertinya mental saya memang terlampau lemah terhadap mereka. Setelah saya melepaskan pikiranku dari Ms.N, Ririn masuk ke dalam kepalaku menciptakan kesan kasmaran. Ririn menghabiskan beberapa episode dalam blog ini mulai dari tulisan #19 yang masih samar-samar, lalu tulisan #33 yang paling galau sedunia terlepas dari judulnya yang stabil, dibuktikan oleh info lebih lanjut yang ada di #35. Syukurlah ini sudah berakhir. Endingnya ada di tulisan #53 poin nomor 2. Mungkin salah satu orang yang paling tidak boleh membaca blog ini adalah Ririn itu sendiri. Saya malu sekali.

Mulai dari tulisan #57, blog ini memasuki ronde baru. Ronde [something nice], dibintangi oleh Nungki Puspita Dewi. Sebetulnya ronde ini berlangsung tidak terlalu lama, hanya saja selalu hilang timbul dengan frekuensi yang tidak menentu. Dan di saat tulisan #81 ini dibuat sekalipun, risiko untuk terjadinya [something nice] itu masih ada. Menakutkan. Dan memalukan tentunya. Ya, Robb... kenapa saya melakukan hal bodoh semacam itu?

Oke, terlepas dari kesalahan memalukan seperti itu, saya tidak akan menutup blog ini. Belum. Haha... Saya sudah banyak menutup blog disebabkan karena malu. Terlalu banyak ketidakstabilan emosi di sana, terlalu banyak kegalauan yang memalukan. Blog ini memang sudah tertular dengan hal bodoh semacam itu, tetapi saya belum lupa tema utama blog ini. Adalah advancing, yang artinya berkembang. Saya tidak akan berkembang jika mengingkari prosesnya.

***
Mendekati kesimpulan.
  1. Saya lemah terhadap wanita, utamanya terhadap yang pernah menarik perhatianku. Hal ini menyebabkan ketidakstabilan emosi berulang, tergantung paparannya.
  2. Saya lemah masalah rejeki. Sering sekali merasa iri dengan yang diperoleh orang lain. Saat ini saya sudah menemukan bahwa fokus harus dialihkan dari fokus output (rejeki) ke fokus proses (usaha). Tidak penting hasilnya karena kita tidak sedang mengejar target, yang penting adalah apa yang kita lakukan bermanfaat bagi orang banyak.
  3. Saya punya inferiority complex, yang sebenarnya cukup keren. Dengan ini, saya bisa menyamai orang-orang berbakat dalam level tertentu. Hanya saja, efek samping yang ditimbulkan tidak baik terhadap kesehatan mental saya. Saya akan jadi depresif.
  4. Saya menyadari beberapa hal yang sebelumnya saya lakukan untuk meningkatkan mood. Akan tetapi, bagaimana pun usaha saya terhadap mood, saya tidak bisa mengendalikannya. Karena sepertinya mood ini lebih tahu saat yang tepat untuk melakukan sesuatu dibandingkan dengn logika. Sekarang bagaimana caranya saja supaya logika berteman dengan mood dan tidak memaksakan sesuatu yang tidak harus dipaksakan.
  5. Berdasarkan enneagram, saya tipe 9, saya menghindari masalah, bukan mengejar mimpi seperti tipe 8. Dan saya berkembang karena saya menghindari masalah. Maka saya harus menghindari wanita yang bisa mengobrak-abrik, menghindari perselisihan masalah rejeki, dan menghindari sikap sombong.
Selanjutnya mungkin akan ada tulisan dengan label advanced, dimana saya tidak akan galau lagi. Dan semoga saya benar-benar tidak galau lagi. Kan enak kalau bisa menjalani hari-hari tanpa beban pikiran. Benar kan?

Jumat, 28 Oktober 2016

#80 Plagiat

Kita semua melakukan plagiat. Siapa yang tidak? Saya? Hahaha... saya juga. Coba kembali ke masa-masa saya kecil dulu, dimana kurikulum pendidikan yang digunakan adalah sistem Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Saat itu, para siswa di sekolah melakukan kegiatan belajarnya dengan mencatat buku sampai habis, ini juga disingkat CBSA. Tapi, tahukah? Saya masih sedikit lebih menyenangi kegiatan itu dibandingkan dengan yang kebanyakan pelajar, mahasiswa, dan orang-orang pada umumnya lakukan saat ini: plagiat. CBSA dengan plagiat yang akan saya bahas di sini tidak jauh beda secara isi, yang beda adalah jaman. Dulu jaman mencatat, sekarang jaman copy-paste dengan komputer.

Saya sedikit tersentak saat mendapat tugas membuat laporan kasus disertai dengan pembahasan kasus. Kenapa saya tersentak? Karena ternyata saya tidak sepintar yang saya bayangkan. Saya secara resmi menyatakan bahwa saya ini tidak pintar, agak sedikit bego malah, tapi mungkin sedikit yang saya bisa ketahui dari sentakan ini adalah budaya copy-paste adalah salah satu penyebabnya. Pada bab pembahasan kasus, referensi ilmiah mana yang diambil kali ini tidak penting. Yang terpenting adalah saya bisa memaparkan dengan gamblang kenapa kasus itu didiagnosis demikian dan bagaimana penatalaksanaannya.

Sentakannya dimulai ketika saya bertanya ke rekan saya: "Bro, punya contoh laporan kasus malaria tidak?" Ternyata dia tidak punya, lalu kami bersama-sama mencari contoh laporan kasus malaria di internet. Singkat kata, yang kami dapatkan adalah contoh laporan kasus malaria dari orang yang belum dokter alias ko-asisten (koas). Lalu, saya jadi malu. Saya dokter, tapi kenapa bikin beginian harus nyontek punya koas?

Pikiran saya berlanjut karena kebetulan lagi sedikit insaf, bagaimana kalau saya ada di pedalaman yang sama sekali tidak dapat akses internet dan disuruh buat laporan kasus dan pembahasan seperti ini? Saya memikirkan saat-saat saya tidak bisa melakukan copy-paste seperti biasa dan membayangkan betapa mengerikannya jika hal itu terjadi.

Waktu masih sekolah dulu, saya merasa pintar. Jago. Pandai. Sombong. Salah satu alasannya adalah karena saya tidak melakukan kegiatan copy-paste jahannam itu sehingga apa yang saya tulis di laporan-laporan saya waktu itu adalah murni dari kepala turun ke kertas. Saya sangat ahli kalau sekedar memaparkan hal-hal sepele terkait dengan keilmuan saya waktu itu. Sekarang? Meh!

Malu dong sama diri sendiri! Malu dong sama gelar sendiri! Misalnya tiba-tiba ditanyai oleh orang yang tidak dikenal, "Saudara kerja sebagai apa?" atau "Keahlian saudara apa?" lalu tiba-tiba pertanyaan sederhana itu berlanjut jadi presentasi kasus selama dua jam non-stop (dimana gak bisa ijin sebentar ke toilet bahkan kalau kebelet) dengan orang sekitar jadi penonton dan ujung-ujungnya tercipta kesan: This guy is not a real deal.

Saya merindukan saat-saat dimana saya menulis sebuah kasus atau sebuah tulisan, memaparkannya secara bebas, dan semua hasil fisik tulisan yang tercipta adalah berasal dari jemari saya semata. Saya merindukan saat-saat ketika saya membuat laporan ilmiah (ada ilmunya) seperti saya membuat tulisan omong kosong di blog ini. Rindu sekali.

***
Lihat ke internet, beberapa pengetahuan yang tertulis di sana adalah hasil copy-paste. Coba lihat isi kepala masing-masing, apakah hal-hal yang dulu Anda copy-paste masih tertinggal di sana? Atau Anda ternyata tidak pernah melakukan hal itu sama sekali? What's your deal? Are you a real deal?

Plagiat telah menjadi budaya. Semua orang melakukannya. Mungkin ada yang belum, tapi setidaknya sebagian besar orang yang 'katanya' berpendidikan pasti sudah pernah melakukannya. Saya hanya berpikir, alangkah malunya saya jika budaya plagiat ini membuat saya tidak bisa menjawab format pertanyaan esai waktu saya SD: "Mengapa blablablabla bisa terjadi? Jelaskan dan uraikan jawaban Anda dalam 2 halaman kertas folio bergaris!"

***
Tentang laporan kasus dan pembahasan kasus yang saya ceritakan di atas: akhirnya saya copy-paste dari punya koas yang saya temui di internet itu. Alasan utamanya, kepepet. Kasusnya original punya saya, tapi bagian assesment kasusnya murni copy-paste. Saya mungkin masih bisa mempertanggungjawabkan jika di presentasi laporan kasus ditanyai ini-itu. Yah, setidaknya saya tidak 100% memplagiat. Tapi plagiat tetap saja plagiat. Saya hanya berharap anak-anakku di generasi mendatang lebih pintar secara sikap dan keilmuannya dari saya dan menjauhi perbuatan copy-paste membabi-buta seperti ini. Sumpah, rasaya ini hina sekali.