Pos

#91 Otoritas yang lebih tinggi

Andaikan saja kamu adalah orang paling berkuasa di dunia ini apa yang akan kamu lakukan? Semua keputusan ada di tanganmu tanpa perlu ijin dari siapa-siapa. Kamu tinggal bertindak untuk sesuatu yang dianggap perlu. Apakah itu yang akan kamu lakukan?
Kalau saya sih iya begitu. 
Kadang kita berada di daerah kekuasaan terbatas dalam artian kita bebas melakukan apa saja selama itu ada dalam wewenang kita. Sedangkan apabila kita hendak memutuskan sesuatu di luar daripada itu diperlukan ijin dari otoritas yang lebih tinggi. Nah, disinilah masalah saya terletak.
Saya ini lancang. Berbuat dan memutuskan seenaknya. Melanggar wewenang orang lain. Ini adalah cerita ketika saya memberi ijin pasien untuk pulang. Kondisi pasiennya bagus. Saat saya visite, dia minta pulang ke saya. Berhubung perawat yang ada di situ menghendaki hal yang sama dengan si pasien maka saya jadi terbawa-bawa. Pasien itu pun saya pulangkan. Saya yakin sekali bahwa si pasien ini tidak sedang kenapa-napa. Sudah sehat.
Saya l…

#90 Gambaran rutinitas saya selama dua minggu belakangan di Maba

Apa yang lebih nikmat dari tidur di pagi hari? Desiran kipas angin, kasur yang empuk, kicauan burung yang merdu di luar jendela membuat waktu pagi semakin nikmat untuk diajak tidur. Namun semuanya berubah ketika alarm melengking. Saya harus bangun.
Laki-laki yang lumayan tinggi ini biasanya akan langsung ke depan cermin melihat wajah aslinya. Tidak jarang cermin menampakkan wajah cemberut ketika bertemu saya di waktu pagi. Itu artinya saya harus membujuk cermin dengan senyuman supaya dia juga menampakkan wajah ganteng yang tersenyum.
Dalam satu hari, tujuan pertama yang harus dicapai adalah menciptakan mood yang bagus. Tanpa mood yang bagus saya akan mengacaukan seluruh agenda dalam sehari seperti yang terjadi pada tulisan #88 dahulu. Menciptakan mood yang bagus paling tepat dilakukan di pagi hari. Ada yang bilang, berbahagialah sampai jam sepuluh pagi, setelah itu Anda akan berbahagia terus sepanjang hari.
Setelah memastikan mood saya dalam keadaan baik saya akan mengingat lagi hari…

#89 Menyepi di Daerah Sangat Terpencil

Untuk tulisan kali ini judulnya dibuat sedikit panjang supaya kelihatan keren. Padahal, sebenarnya judulnya masih jauh lebih pendek dari judul skripsi terpendek yang pernah saya baca. Kalau menurut kalian itu tidak keren tidak masalah. Bagi saya itu tetap keren.
Saya sudah dua minggu di sini, di Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara. Sampai hari ini saya masih merasa baik-baik saja. Saya bahkan sangat bersemangat untuk bertugas melayani masyarakat di sini. Kalau selama saya di sini saya terlihat o-on culun kikuk lucu pelupa atau agak sedikit bego itu karena karakter bawaan saya. Saya berharap sifat bawaan saya itu tidak merugikan siapa pun selain diri saya sendiri.
Di sini tidak ada apa-apa dan jauh berbeda dengan kota besar. Saking tidak ada apa-apanya beli paket untuk menelpon saja tidak ada. Operator bilangnya paket itu tidak bisa dibeli di daerah ini. Saya jadi sedih tidak bisa menelpon Ibu di rumah. Namun, saya cukup bersyukur karena bawa kartu sakti dari rumah jadi bisa beli …

#88 Cari Kerja

Pada akhir cerita di tulisan #87, saya terpaksa menganggur. Saya menganggur karena jadwal penerimaan dokter PTT di Konawe Utara diundur. Entah kenapa jadinya saya menganggur cukup lama, hampir satu bulan. Kemudian, ada satu hal yang perlu kalian ketahui: menganggur itu tidak enak.
Saya merasa diberi harapan palsu. Hiks, sakit. Akan tetapi, saya tidak menyerah sampai di situ. Sembari menghubungi teman yang ada di sekitar Konawe untuk menanyakan kejelasannya, saya masih coba-coba untuk ikut Nusantara Sehat juga.
Saat itu, saya sudah lulus tahap berkas untuk seleksi Nusantara Sehat. Untuk sementara, saya lupakan Konawe, fokus ke program satu ini. Saya hampir habis 400 ribu rupiah untuk periksa kesehatan di Rumah Sakit Jiwa. Awalnya, saya cukup penasaran kenapa daftar Rumah Sakit yang dilampirkan di surat edaran untuk pemeriksaan kesehatan Nusantara Sehat semuanya di RSJ, ternyata ada syarat untuk tes MMPI2. Iya, itu pemeriksaan kesehatan mental.
Saya coba melanjutkan ke tahap kedua, yai…

#87 Menganggur

Waktu saya baca ulang tulisan nomor #86 saya bertanya-tanya sendiri, keputusan hidup apa yang sebenarnya saya utarakan di sana. Soalnya, saya hanya cerita tentang Pindahan posko yang kami lakukan dengan penuh keringat darah dan air mata. Halah, lebay! Cerita itu mengambil latar waktu bulan Januari sampai Februari akhir, sama dengan cerita ini. Oke, sebelum saya melanjutkan ke kejadian selanjutnya, yaitu menganggur, saya akan ceritakan sedikit tentang sisi lain cerita terdahulu.
Pada tulisan nomor #85, saya menyampaikan bahwa saya terjebak di posko. Tentu, sebagai orang yang terjebak, saya merasa dirugikan. Mental saya jadi tidak stabil, pikiran saya jadi kemana-mana, dan tidak fokus menafkahi diri sendiri. Oleh sebab itu, saya membuat sebuah rencana. Rencananya adalah sebagai berikut.
"Saya akan selesaikan masalah ini sampai titik tertentu, lalu saya akan hilang dari sini dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan."
Pada saat itu, masalah yang hendak saya selesaikan adala…

#86 Pindahan posko

Assalamualaikum! Atas dasar niat tulus melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang posko, saya menyempatkan diri lagi menulis di sini. Sebenarnya jadi agak malas menulis karena belakangan jadi sibuk. Sibuk istirahat sih, tapi.
Sekarang saya sudah merasa bebas sebab saya hari ini sudah tidak berada di posko lagi. Saya bukan lagi pengurus posko dan semua orang harus menerima hal itu, termasuk mereka: dokter yang kadang-kadang masih menghubungi saya untuk mencari pekerjaan, juga mereka: dari pihak klinik yang kadang-kadang masih mencari dokter pengganti lewat saya.
Saya bercerita di tulisan saya sebelumnya di #85 tentang bagaimana saya terjebak. Nah, sekarang saya akan bercerita bagaimana kelanjutannya.
***
Teman-teman saya hilang satu per satu setelah saya datang. Tanggung jawab mengurus posko diserahkan kepada saya. Keseharian posko okelah, saya bisa tangani. Dengan sumberdaya manusia yang sedikit saya masih bisa mengatur agar semuanya terpenuhi. Masalahnya adalah dana tidak cukup unt…